Prof Sugiyo Bimbing Siswa SD Meraih Cita-Cita

Di tengah-tengah keasyikan siswa kelas IV A SD Islam Istiqomah Ungaran Semarang, pakar Bimbingan dan Konseling Prof Dr Sugiyo MSi memberikan motivasi meraih cita-cita dengan pembelajaran aktif, Kamis (5/12).

Profesor Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (FIP Unnes) ini menunjukkan kemahirannya mengolah topik pembelajaran di kelas tanpa pemberitahuan pada siswa sebelumnya.

“Apa yang harus dilakukan untuk meraih cita-cita?”, tanyanya setelah mendengar beragam cita-cita siswa.

“Belajar,” kompak siswa menjawab dengan teriakan khas anak-anak.

Tak berhenti di situ, siswa diberikan pemahaman tentang bagaimana cara mereka untuk meraih cita-cita.

Sama halnya dengan kelas IV A, Prof Sugiyo juga tampil dikelas IV B tanpa pemberitahuan. Sontak riuh tepuk tangan siswa menyambut kedatangannya.

Menurut Muhajir, salah seorang guru SD Islam Istiqomah, program Professors Go To School mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam memperoleh gambaran sosok seorang profesor.

“Selain itu, kehadiran Prof Sugiyo sangat membantu dalam mengatasi permasalahan penerapan Kurikulum 2013,” tambahnya.

Seusai mengajar, Prof Sugiyo bersama Kepala Sekolah Maskur SPdI dan beberapa guru berdikusi mengenai kesulitan penerapan Kurikulum 2013. Penilaian bagi siswa SD dalam Kurikulum 2013 memang menjadi kendala guru. Sebagian besar guru menyampaikan kesulitannya dalam memberikan penilaian rapot kepada siswa karena berbentuk deskriptif.

“Tidak ada patokan kalimat yang standar untuk memberikan nilai A bagi siswa,” kata Maskur SPdI dalam diskusi di ruang perpustakaan SDI Istiqomah.

“Seharusnya, memang ada semacam kesepakatan antarguru minimal se-Unit Pelaksana Teknis Dinas Daerah mengenai penilaian tersebut,” ungkap Prof Sugiyo memberikan solusi dan berjanji akan menyampaikan permasalahan guru pada pihak terkait.

Sumber: unnes.ac.id

Dari Prof Hardi untuk 100 Guru MTs soal Kurikulum

Di hadapan lebih dari 100 guru Madrasah Tsanawiyah (MTs), Prof Hardi Suyitno, pakar matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menyampaikan materi Implementasi Kurikulum 2013. Forum yang dikemas dalam bentuk seminar itu digelar pada Minggu (1/12), di MTs Asy Syarifah Kecamatan Mranggen Demak.

Prof Hardi sengaja memilih turun ke MTs, “di lingkungan kementerian Agama khususnya MTs sama sekali belum terjamah, agar penerapan kurikulum baru ini lebih baik, lancar maka perlu pendampingan dan mengenalkan kepada mereka,” ungkapnya.

Dia juga menyampaikan, menurut sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abu Tholib, “Didiklah anak-anakmu, kelak mereka akan mengalami jaman yang berbeda”. “Ini bukti bahwa hidup itu dinamis, begitu juga kurikulum, senantiasa berubah sesuai kondisi zaman,” katanya.

Menurut Prof Hardi, perubahan kurikulum sebuah keniscayaan. “Sekolah itu bagaikan negara. Di dalammya ada sistem yang secara dinamis berubah dan berkembang. Kepala madrasah dan guru bagian dari sistem itu,” katanya.

Prof Hardi mengibaratkan sebuah keluarga yang ingin masak nasi goreng, sebagai bahan dasarnya adalah nasi, sedangkan bumbu yang lain, ingin rasa apa, campurannya apa, yang biasa atau spesial tergantung kepada keinginan anggota keluarga.

Sedangkan negara, dasarnya Pancasila, sekolah, panduannya kurikulum, Kepala sekolah, guru, bagian integral dari itu. “Syarat yang harus dipenuhi agar pembelajaran berkualitas, pengembangan kurikulum sesuai dengan prosedur yang benar, waktu yang memadai, oleh orang-orang yang berkompeten dan siap serta supervisi yang baik,” katanya.

Dia menyatakan perlunya kerja sama antara sekolah dan pemangku kepentingan, perguruan tinggi. Karena MTs di bawah Kementerian Agama, maka ia harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama termasuk karakter ke dalam setiap mata pelajaran.

Drs Ngabiyanto MSi selaku koordinator program mengemukakan, seminar yang dilaksanakan dalam program Professors Go to Schools ini tidak hanya untuk satu sekolah di MTs Asy Syarifah, tetapi sampai juga MTs se-Kecamatan Mranggen.

Menurutnya, program ini sengaja diluncurkan Unnes untuk membantu mencairkan masalah di sekolah terkait dengan pembelajaran, terutama dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.

“Sebagai jenderalnya perguruan tinggi, sosok profesor yang bertandang dan mengajar di sekolah, diharapkan jadi inspirasi dan motivator bagi guru maupun siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujarnya.

Sementara itu, Ulin Nuha SS, Kepala MTs Asy Syarifah menyambut gembira prakarsa tersebut. Dia berkata, MTs yang dipimpinnya dan sekolah pada umumnya di Mranggen sangat membutuhkan kehadiran profesor.

Drs Pribadi MAg, pengawas MTs Mranggen mengapresiasi program ini. Dia mengemukakan, dengan pendampingan dan pembimbingan Prof Hardi, harapannya guru guru MTs akan paham membuat dan menyajikan perangkat pembelajaran yang benar sesuai dengan amanah kurikulum.

Sumber: unnes.ac.id

Prof Yahmo Tanamkan Nilai Pancasila pada Siswa SMA

Pakar filsafat Pancasila dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Suyahmo MSi, mengajarkan nilai filsafat Pancasila kepada siswa SMA N 1 Demak, Selasa (3/12).

Dia hadir untuk program Professor Go to School. Sebagaimana di sekolah lain, di sekolah itu program ini direspons positif oleh siswa dan guru. Bahkan mereka meminta Prof Yahmo, panggilan akrabnya, datang lagi ke sekolah.

Di hadapan 42 siswa, dia bertanya, “Pancasila adalah dasar terhadap negara Republik Indonesia (RI). Jika negara RI adalah rumah, maka dasarnya apa?”

Siswa pun menjawab, “Fondasi!  Pancasila!”

“Hebat!” puji Prof Yahmokepada siswa yang berani menjawab dan benar itu.

Lagi, Prof Yahmo mengajukan pertanyaan. “Perbuatan jujur dan adil itu termasuk bela negara. Apakah perbuatan tidak jujur itu termasuk dalam bela negara?”

Seorang siswa menjawab, “Termasuk bela negara, Pak, jika untuk kepentingan negara. Maksudnya, dalam situasi atau kondisi tertentu, perbuatan tidak jujur pun termasuk bela negara.”

“Mengapa? Apa contohnya?” kejar Prof Yahmo.

“Contohnya sadap-menyadap. Itu merupakan perbuatan tidak benar. Namun kalau untuk kepentingan orang banyak, untuk negara, maka perbuatan tersebut dapat dibenarkan. Perbuatan itu dilakukan dalam konteks apa dulu, Pak. Kalau merugikan orang lain, itu bukan bela negara tetapi ketidakjujuran. Kalau sadap-menyadap itu dilakukan untuk kepentingan negara, maka termasuk bela negara,” jawab seorang siswa,

Pakar filsafat itu pun, mengangguk luar biasa, dengan senyum memberi hadiah.

Selain itu, Prof Yahmo juga menjelaskan dan bertanya kepada siswa terkait dengan dasar negara, Pancasila, logika dasar negara dan negara, bentuk pengamalan Pancasila, hubungan antara Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, bela negara, hak dan kewajiban warga negara, serta korupsi.

Koordinator program Profesor Mengajar di Sekolah Ngabiyanto MSi pada saat yang bersamaan dia juga masuk ke kelas untuk berbicara mengenai Unnes Konservasi. Di hadapan 100-an siswa, dia menjelaskan dan mengenalkan gambaran konservasi yang telah dilaksanakan di Unnes.

Kepala Sekolah Suyanto MPd menyampaikan apresiasi atas pendampingan oleh profesor di sekolah ini.

Sumber: unnes.ac.id